4 Film Indonesia Ter-Nggak Bisa Dilupain

Dulu, gue pernah ketemu sama seseorang yang bikin gue suka nulis dan suka dunia film (gara-gara liat dia, gue jadi kepikiran pengen kuliah film). Nggak……tulisan ini nggak bakal berubah jadi sarana curhat. Dan nggak……kita nggak pacaran, eh gue juga nggak naksir dia sih, cuma kagum aja gituh

Sejak saat itu gue jadi suka nonton film, genre apa aja hayuk kecuali horor, soalnya gue nggak suka dikagetin. Banyak orang suka nonton film, ada yang setiap keluar film baru, langsung stand by di bioskop dari hari pertama tayang atau yang siap beli tiket lewat M-Tix. Gue nggak segitunya sih, gue lebih suka nonton di minggu kedua, biar nggak terlalu penuh. Buat gue nonton film itu pengalaman, makanya nonton di bioskop itu udah the best. Layarnya gede, suaranya maksimal, gambarnya luar biasa bagus, apalagi IMAX atau CGV. Kaya waktu nonton “The Greatest Showman”, di layar bioskop kerennya abis-abisan! Nggak yakin kalo nonton lagi di Netflix bakal sekece itu sampe bikin merinding di menit pertama

Menurut gue, nonton film adalah ngeliat kehidupan orang lain yang disorot lebih dekat. Jadi gue suka film yang ceritanya ninggalin sesuatu yang membekas, ntah bikin mikir, bikin emosi, bikin kesel atau bahkan bikin nyesel. Walaupun yang suka nonton film itu buanyak banget, tapi sebagian orang sangat skeptis sama film Indonesia. Kalo gue sih nggak peduli itu film buatan mana, Indonesia, HollywoodBollywood, Korea atau Thailand, kalo ceritanya asik, sutradara-nya bagus, penulis skenario-nya gue suka atau pemainnya menarik, pasti gue tonton (yang penting kalo ada duitnya)

-Baca Lanjutannya->

Advertisements

Foto, Kenangan, Impian

Pagi itu tidak seperti biasanya. Aku tetap sibuk membuat teh dan Diva sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi yang membuat pagi itu berbeda adalah ucapan Diva berikutnya,

“Aku mau ke Inggris.”

“Buat apa kamu kesana?”

“Tapi aku harus ke Inggris David!”

“Mau apa kamu disana?” Aku mulai kesal karena dia mengungkit Inggris.

“Aku mau ke Trafalgar Square, aku mau menikmati sibuknya orang disana. Aku ingin mendengar suara Big Ben dari dekat seperti Cruella de Vil, juga melihat indahnya London Bridge di malam hari.”

“Aku mau……ke 221b Baker Street. Aku ingin……Aku…Dia…”

“Diva! Kamu serius? Jangan bercanda Diva.” Aku meninggalkan teh di meja dapur dan beranjak ke sampingnya. Bicara Diva mulai melantur.

-Baca Lanjutannya->