Laptopku Sayang Laptopku Malang

Sebagai generasi yang menjalani masa remaja di tahun 1990-an sampai 2000-an, gue nggak pernah kepikiran pengen punya laptop. Soalnya pada waktu itu gue nggak tahu apa faedahnya punya laptop sendiri. Secara di rumah udah ada komputer punya Papah yang kami pake ganti-gantian. Lumayan buat ngisi testi di Friendster sama download mp3 buat ganti ringtone HP. Paling lama make koputer buat ngerjain makalah sekolah. Ya abis mau ngapain lagi, internet belom sekenceng sekarang, download 1 mp3 bisa 20 menit, youtube belom ngehits, pokoknya masa-masa dimana denger suara kaya gini terasa menyenangkan sekaligus deg-degan kalo ternyata nggak nyambung

Waktu kuliah di Arsitektur, akhirnya gue merasakan kebutuhan tersier akan adanya sebuah laptop. Karena masuk tahun kedua, dosen-dosen minta gambar dikerjain dengan AutoCad dan software 3D. Kenapa baru tahun kedua? Soalnya waktu semester awal kuliah, semua gambar di kelas studio harus pake gambar tangan. Dari gambar kerja sampe 3D-nya (yang membuat gue kehilangan uang buat nyogok temen biar mau bantuin gambar). Makanya waktu boleh pake software, kita semua menyambut berita ini dengan gembira dan suka cita. Pake komputer rumah juga bisa sebenernya, tapi ngerjain tugas studio itu paling enak di kampus, rame-rame, sambil ngemil ayam geprek

Laptop pertama gue (yang gue kasih nama Erik) dipilihin sama Papah. Karena waktu itu gue nggak ngerti speck laptop kaya mana yang gue butuhin buat ngerjain tugas kuliah. Alhasil laptop itu ngambek setelah dua tahun bekerja keras dan menemui ajalnya waktu Tugas Akhir, yang bikin gue nangis semaleman di kosan gara-gara gambar yang mau dipake buat sidang lenyap

-Baca Lanjutannya->

Advertisements

Tricherie

“Aku langsung yah” Dia mengecup keningku, meninggalkanku termenung di depan rumah sementara suara motornya menderu menjauh. Biasanya dia akan meminta segelas air dingin lalu bercanda betapa jauhnya rumahku. Aku masuk ke dalam rumah sambil mengingat apa yang terjadi sampai dia berlalu begitu cepat.

Kami sedang duduk di cafe setelah menonton film, selama nonton perhatiannya terbelah antara HP dan kilasan gambar di depan matanya. Begitupun saat ini, dia berkali-kali melihat HP-nya, mengetik dengan senyum di bibirnya, lalu lupa aku sedang bercerita apa. Kata “Maaf…maaf…kamu lagi cerita apa tadi?” terdengar berulang kali sampai akhirnya aku diam. Kejadian ini bukan hanya hari ini saja, tetapi sudah berulang kali. Sampai ketika ice cream datang dan dia melihat sesuatu di HP-nya yang membuatnya buru-buru mengajakku pulang dan melupakan dessert favoritnya.

I’m not jealous, aku hanya tidak suka saat dia terlihat menutupi sesuatu. Aku percaya padanya. Tapi……

Aku menghembuskan nafas mengingat semuanya sambil mencari HP di dalam tas. Hari ini harus ditutup dengan curhat kepada sahabatku. Setelah bercerita panjang lebar, kalimat pertama yang muncul di layar adalah

“Dia selingkuh!”

“What????”

-Baca Lanjutannya->

Foto, Kenangan, Impian

Pagi itu tidak seperti biasanya. Aku tetap sibuk membuat teh dan Diva sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi yang membuat pagi itu berbeda adalah ucapan Diva berikutnya,

“Aku mau ke Inggris.”

“Buat apa kamu kesana?”

“Tapi aku harus ke Inggris David!”

“Mau apa kamu disana?” Aku mulai kesal karena dia mengungkit Inggris.

“Aku mau ke Trafalgar Square, aku mau menikmati sibuknya orang disana. Aku ingin mendengar suara Big Ben dari dekat seperti Cruella de Vil, juga melihat indahnya London Bridge di malam hari.”

“Aku mau……ke 221b Baker Street. Aku ingin……Aku…Dia…”

“Diva! Kamu serius? Jangan bercanda Diva.” Aku meninggalkan teh di meja dapur dan beranjak ke sampingnya. Bicara Diva mulai melantur.

-Baca Lanjutannya->