Body Pampering #DiRumahAja Dengan Scarlett Whitening

Being jealous of a beautiful woman is not going to make you beautiful.
– Zsa Zsa Gabor –

Just like she said, cemburu sama apa yang orang lain punya nggak akan membuat kita jadi tambah menarik. Kesel sama wajah mulusnya nggak bikin jerawat kita hilang, sentimen karena perut dia rata nggak bikin berat kita turun, iri sama kulitnya yang putih nggak bikin kita jadi Pevita Pearce.
Semua itu nggak ada gunanya, sampai kita berhenti membandingkan dengan orang lain dan mulai sayang dengan diri sendiri.

A
(source)

Aku nggak percaya sama kalimat “putih itu cantik”. Cantik……ya cantik aja, nggak ada hubungannya sama warna kulit. Apakah karena putih terus aku jadi lebih cantik dari Tara Basro? Kan nggak……
*sedih menerima kenyataan*

Walaupun begitu, kulit yang cerah dan sehat akan membuat kita terlihat lebih menarik. Dan bukan wajah aja, tubuh juga perlu perhatian kamu. Pemakaian sabun yang salah, udara kering, stress berlebih, sinar UV, kurang minum, banyak alasan yang bisa bikin kulit kamu kering bahkan sampai bersisik.
Nggak mau kan kulit kamu berasa kasar waktu digandeng sama gebetan saat nyebrang jalan kaya Cinta – Rangga?

B
(source)

Karena sekarang lagi #DiRumahAja dan nggak bisa ke salon, kita bisa lho perawatan sendiri. Yang penting pilih sabun yang cocok, rajin scrubbing satu sampai dua kali seminggu dan selalu pake body lotion.
“Scarlett Whitening” adalah salah satu brand lokal yang punya line produk lengkap untuk self-pampering.

2

Brand ini digagas oleh actress Felicya Angelista di tahun 2017. Walaupun punya nama belakang whitening, fungsi utamanya bukan untuk memutihkan. Produk-produknya lebih ditujukan untuk mencerahkan kulit. Jadi warna kulit kamu nggak akan langsung berubah drastis, tapi akan terlihat lebih cerah.
Efek cerah ini dihasilkan oleh dua bahan utamanya yaitu Vitamin E dan Glutathione, yang dapat mencerahkan, melembabkan, juga menutrisi kulit.

4-edit

Read More »

Tips Order Pertama Di “Yuna & Co” + Review Matchbox

Semua cewek pasti suka belanja. Dengan banyaknya e-commerce bertebaran, kita jadi punya banyak pilihan untuk belanja secara online, daripada harus pergi ke mall.
Positif-nya kita bisa check-out skincare di mana aja, kapan aja. Di tengah deadline kerjaan kantor atau nunggu ngantuk di tempat tidur.
Tapi selain duit jadi lebih cepet abis, negatif-nya kita nggak bisa nyoba dulu, pegang bahannya dulu, ngetes warnanya dulu, sampai ngecek barangnya beneran bagus atau nggak.

A
(source)

Persaingan antar e-commerce membuat mereka mulai mencari konsep yang paling unik dan berbeda dengan yang lain. Ada yang bisa dicoba dulu, rental outfit bulanan, ngasih harga flat untuk semua product-nya sampai banyak promo setiap bulan.
Salah satu-nya adalah “Yuna & Co”. Konsep yang mereka bawa mungkin jadi yang pertama diterapkan di Indonesia.

Pernah belanja, tapi nggak tahu apa yang kita bayar?
Pernah belanja, tapi nggak tahu apa yang akan datang?
Pernah belanja, tapi nggak milih sendiri?

2
(source)

Aplikasi yang didirikan tahun 2017 ini menyebut diri mereka fashion matchmaking. Mereka menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendapatkan data tentang preferensi gaya berpakaian, dan menggunakannya untuk mencari tahu style fashion yang match dengan para penggunanya.

Dengan mengisi beberapa pertanyaan tentang style fashion kita di “Yuna & Co”, fashion stylist mereka akan mencari fashion items yang cocok untuk kita. Layanan ini mirip subscription box, di mana kita bayar sejumlah uang tapi nggak tahu apa yang ada di dalam box tersebut. Ibaratnya punya personal shopper sendiri, kita cukup percaya aja sama pilihan mereka.
Banyak yang bilang, dapet box dari “Yuna & Co” rasanya kaya dapet kado dan bikin lebih excited waktu unboxing paketnya.

D
(source)

Gue akan bagi-bagi step by step order di “Yuna & Co”, beberapa tips supaya orderan pertama lo sukses dan pastinya review matchbox pertama gue!

Tell Your Fashion Style (Detail!)

“Yuna & Co” bisa diakses melalui dua cara, lewat aplikasi di smartphone atau melalui website-nya.

Read More »

“Kiehl’s – Ultra Facial Cream” Moisturizer Ringan untuk Kulit Sensitif

Di antara semua tahapan skincare, gue paling capek berurusan sama moisturizer. Macem-macem brand udah dicoba, walaupun nggak sebanyak Suhay Salim juga sih. Dari “Pond’s”, “Wardah”, “Skin 1004” sampe “Naruko”. Tapi belum ada yang cocok atau minimal nggak bikin muka gatel atau jerawatan.

“Pond’s” dan “Garnier” bikin berminyak, pake “Wardah” dan “Cosrx” muncul jerawat, “Hadalabo” aman sih tapi rasanya kurang enak di muka, nyoba “Naruko” sama “Nature Republic” malah gatel terus bentol, dan gue punya love – hate relationship sama “Skin 1004”. Sedih rasanya setiap ngeliat tube-tube moisturizer yang nggak cocok. Untung beberapa yang harganya lumayan masih bisa dijual lagi di Tokopedia.

A
(source)

Suatu hari gue nyobain “Laneige – Water Bank Moisture Cream” ukuran 10 ml, dapet dari goodie bags acaranya “Samsung K-Beauty Event”, dan COCOK. Kulit gue aman, formulanya ringan, wanginya seger, bikin lembap, nggak berminyak. Sayangnya dompet gue yang nggak cocok. Full size 50 ml-nya Rp. 450.000. Mau repurchase, ATM gue udah gemeter duluan.

Sampe akhirnya ketemu “Kiehl’s – Ultra Facial Cream”. Sebenernya harganya nggak jauh beda sama “Laneige”, tapi kali ini gue bisa nyoba ukuran travel size 28 ml, lumayan buat beberapa bulan.

5

Mari kita mulai review-nya.

Kemasan

Gue suka banget kemasannya. Plastik tebel, jadi nggak gampang pecah kalo dibawa travelling. Waktu beli nggak ada kotaknya, nggak tau karena punya gue yang travel size, atau produknya “Kiehl’s” emang nggak pake kotak.
Salah satu kelebihan “Kiehl’s” yaitu mereka punya dua ukuran. Jadi kalo mau coba-coba dulu dan nggak mau beli yang full size, kalian bisa beli yang travel size dengan ukuran kurang lebih setengah dari full size.

Read More »

Kelas Skenario Ernest Prakasa 2020

Dengan tujuan menggerakkan sel-sel otak yang semakin hari semakin mengkerut, hari Minggu tanggal 8 Maret 2020 gue memutuskan ikut “Kelas Skenario Ernest Prakasa” di “Sinou Cafe” Panglima Polim, Jakarta Selatan. Batch empat kelas skenario ini diadakan di lima tempat, Serpong, Bekasi, Jakarta, Bandung, dan Bogor. Kota lainnya nggak ada, karena udah didatangi waktu batch tiga dan (menurut Ernest) materinya masih sama.
Karena paling banyak yang daftar, khusus Jakarta dibagi jadi dua kelas, pagi dan siang, masing-masing sekitar 30-an peserta. Dan karena masih banyak juga yang daftar, akhirnya dibuka kelas lagi di tanggal 25 Maret 2020. Mantab sekali!

7
(source : instagram @ernestprakasa)

Harganya Rp. 750.000 untuk empat jam pembelajaran (nggak tau ini termasuk pricey atau nggak. soalnya dua kelas nulis yang pernah gue ikutin sebelumnya itu gratisan, di “Akademi Berbagi” dan “Wahana Kreator”).

Tapi gue bisa ikut kelas ini lewat jalur beasiswa. Caranya dengan kirim sinopsis satu halaman ke e-mail-nya Ernest, nanti dipilih 15 orang yang berhak ikut kelasnya dengan gratis. Cerita yang gue kirim itu…………sorry…………bukannya nggak mau sharing, tapi ceritanya masih mentah banget dan belom tau akan jadi apa nanti kedepannya. Cara penulisannya berbekal pengalaman dari kelas penulisan Bayu Maitra di “Akademi Berbagi” bulan Agustus tahun lalu (kelasnya bagus. kalo ada lagi, coba ikutan deh).
Cerita ini awalnya ditulis dan mau dikirim buat jalur beasiswa batch ketiga, tapi batal karena gue nggak ngeh kalo waktu itu Ernest majuin tanggal pengumpulannya.

4
itu gue di deket cermin, yang pake jaket jeans (source)

Balik lagi ke kelas skenario.
Gue sengaja milih kelas siang biar masih ada waktu buat siap-siap dan nggak harus bangun pagi-pagi. Kelasnya dimulai jam 14.00 sampai 18.00. On-time banget lho, jadi jangan sampe telat. Gue dateng jam 13.45 aja udah rame yang dateng. Selama empat jam kita juga ditemenin sama gorengan, kopi susu, kue-kue dan boba yang boleh diambil sepuasnya.

Jadi, kelas ini adalah kelas basic yang (sebenernya) ditujukan buat yang belum pernah menulis skenario. Dan batch ini adalah kelas basic terakhir karena setelah ini rencananya dia akan mulai membuat materi untuk kelas lanjutan. Semoga gue bisa ikutan lagi.
Di awal kelasnya, Ernest memulai dengan quote ini,

Read More »

NONTON LAGI : “Eiffel I’m in Love” – Masih Bikin Love Nggak?

Setelah bikin tentang “Ada Apa Dengan Cinta”, gue jadi pengen ngebahas film 2000-an yang lain. Untuk kali ini, gue mau ngomongin “Eiffel I’m in Love” yang keluar tahun 2003. Tapi tahu nggak kalo “Eiffel I’m in Love” punya extended version yang rilis tahun 2004, tepatnya tujuh bulan setelah versi original-nya. Katanya, gara-gara banyak yang minta versi panjangnya. Kalo sekarang mungkin mereka udah bikin hashtag #ReleaseNasriCheppyCut.

U
#ReleaseNasriCheppyCut (source)

Kayaknya novel sama film ini yang bikin gue ngimpi pengen ke Paris, dan setelah 12 tahun akhirnya dikasih kesempatan juga sama Tuhan. Rasanya? It’s surreal… Mungkin ada yang mau baca cerita gue bisa gratisan ke Paris (promo tulisan…..dikit).

Back to “Eiffel I’m in Love : Extended Version”.
Durasi film ini 3 jam 11 menit, nambah sekitar 50 menit dari versi sebelumnya. Lebih panjang dari “Bumi Manusia” dan “Avengers: Endgame”, walaupun tetap kalah sama film “Pemberantasan G.30 S PKI” (4 jam 30 menit).
Alasan gue milih film ini buat dibahas, gara-gara baca artikel-nya Candra Aditya di provoke-online dan tulisannya Teppy, yang ngebahas dua film Shandy Aulia dan Samuel Rizal lainnya.

Lo pasti masih inget ya ceritanya.

5
gue lebih suka poster yang sebelumnya (source)

Intinya……Adit liburan ke Jakarta, ketemu Tita, berantem mulu, muncul Titi Kamal, Tita putus sama Ergi, Tita liburan ke Paris, mereka ciuman di eiffel, makan burger. That’s it.

Ini pertama kalinya gue nonton yang extended version. Kayaknya baru dua film Indonesia yang ngerilis dua film yang sama, tapi dengan versi yang berbeda. “Eiffel I’m in Love” dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” (3 jam 30 menit. ini lebih lama lagi). Eh ada satu lagi, baru-baru ini keluar “NKCTHI” versi Director’s Cut.

Jadi, tulisan ini akan berisi hal-hal yang gue dapet dari film “Eiffel I’m in Love : Extended Version” waktu nonton lagi di tahun 2020. 16 tahun setelah filmnya keluar di bioskop. Yang saat tulisan ini dibuat, Shandy Aulia udah mau melahirkan dan Samuel Rizal udah punya anak satu tapi (sayangnya) cerai lima tahun lalu. Well, fakta ini cuma buat ngingetin aja ke kalian yang nonton film-nya di bioskop, kalo kita-kita ini udah berumur.

Eiffel I’m in Love : Extended Version (2004)

1. Film dibuka dengan dua anak kecil yang lagi ngobrolin cita-cita, ditemenin bunga-bunga (yang sepertinya mawar) merah berguguran banyak banget. Anggap saja ini lagi musim gugur di luar negeri supaya masuk logika, walaupun #RichPeopleFree.
Tapi ngapain mereka ngegambar di tengah hujan mawar? Nggak mau nunggu sampe musim gugurnya kelar aja?

Oh iya, gambar yang mereka buat ini akan muncul lagi di tengah film. Tepatnya di kamar Tita. Sayangnya, gambar eiffel ini nggak berguna apa-apa. Padahal kan lucu juga gambarnya jadi pengingat masa kecil mereka berdua.
Read More »