Belanja…Mending nyesel beli daripada nyesel nggak beli…

Dulu gue nggak kebayang bisa pergi keluar Indonesia, karena nggak pernah ada tuh ceritanya liburan sekolah pergi ke luar kota, paling mentok ke Puncak. Tapi karena keberuntungan yang Alhamdulillah masih ada, gue pernah ke Singapore, Korea Selatan, sama Paris

Yang namanya liburan nggak lengkap kalo nggak belanja, apalagi perempuan. Liat barang lucu berenti, liat barang warna warni pengen masuk, liat barang aneh pengen digandeng ke kasir. Tiap keluar negeri, gue gatel banget tiap liat snack yang nggak ada di Jakarta (bahkan di Paris gue beli Pringles rasa Chicken Taco, hanya karena iming-iming tulisan Food Truck Flavor, yang makan tempat banget di koper), tapi ternyata kepelitan menahan gue buat royal di sana. Terus pas udah di Jakarta, nyesel. Nyesel kenapa nggak beli ini, kenapa nggak beli itu, nyesel kenapa nggak beli banyak, dan nyesel-nyesel lainnya. Padahal nggak tiap tahun bisa nengok Eiffel. Ya gitu deh si labil.

Shopping

kapan-kapan deh liburan sambil nenteng banyak gini : source

Satu lagi pintarnya gue adalah setiap pergi, gue nggak googling dulu barang apa yang cuma ada di sana. Jadi pas waktunya belanja, gue bingung mau beli apa. Sampe Jakarta ya sama, nyesel lagi.

Judul gue di atas adalah kata-kata temen cowok gue yang kesel gara-gara temen-temen ceweknya ngomong mulu mau beli ini, tapi mahal, tapi pengen, tapi sayang uangnya, tapi kebayang-bayang,

“Heh! Mending nyesel beli daripada nyesel nggak beli! Udah beli aja gih! Bawel.”

Beberapa barang yang nyesel nggak kebeli karena sisi medit dan “pintar” gue keluar di saat yang tidak tepat, dan pengen banget nitip sama temen yang keluar negeri itu antara lain ini.

-Baca Lanjutannya->

Tricherie

“Aku langsung yah” Dia mengecup keningku, meninggalkanku termenung di depan rumah sementara suara motornya menderu menjauh. Biasanya dia akan meminta segelas air dingin lalu bercanda betapa jauhnya rumahku. Aku masuk ke dalam rumah sambil mengingat apa yang terjadi sampai dia berlalu begitu cepat.

Kami sedang duduk di cafe setelah menonton film, selama nonton perhatiannya terbelah antara HP dan kilasan gambar di depan matanya. Begitupun saat ini, dia berkali-kali melihat HP-nya, mengetik dengan senyum di bibirnya, lalu lupa aku sedang bercerita apa. Kata “Maaf…maaf…kamu lagi cerita apa tadi?” terdengar berulang kali sampai akhirnya aku diam. Kejadian ini bukan hanya hari ini saja, tetapi sudah berulang kali. Sampai ketika ice cream datang dan dia melihat sesuatu di HP-nya yang membuatnya buru-buru mengajakku pulang dan melupakan dessert favoritnya.

I’m not jealous, aku hanya tidak suka saat dia terlihat menutupi sesuatu. Aku percaya padanya. Tapi……

Aku menghembuskan nafas mengingat semuanya sambil mencari HP di dalam tas. Hari ini harus ditutup dengan curhat kepada sahabatku. Setelah bercerita panjang lebar, kalimat pertama yang muncul di layar adalah

“Dia selingkuh!”

“What????”

-Baca Lanjutannya->

Travelling, mama, dan impiannya

Travelling. Satu kata yang lagi banyak banget gue denger tahun ini. Buat gue sendiri travelling itu mencari pengalaman, bikin kita jadi tau banyak hal di luar sana. Kenapa gue suka travelling? Papa dulu pernah bilang gini, “Kamu harus cobain macem-macem. Biar kalo ditanya orang, kamu bisa cerita. Kamu bisa tau banyak hal.” Kata-kata papa itu yang akhirnya bikin gue suka nyoba macem-macem dan juga nyobain makanan macem-macem (ya, walaupun nggak semua sih, Acrophobia bikin gue nggak berani nyoba semua yang berhubungan sama ketinggian)

Dari kecil, papa nggak pernah ngajak kita sekeluarga travelling ke luar kota selain ke Jogja-Solo waktu lebaran. Padahal temen-temen gue udah pergi kemana-mana diajak orang tuanya. Tapi itu yang bikin gue punya motivasi buat travelling pake uang sendiri suatu hari nanti. Akhirnya waktu udah kerja dan punya uang sendiri, gue pelan-pelan nabung buat ke luar kota, keluar negeri, ngeliat sisi lain peta dunia yang sering gue pelajarin waktu sekolah. Dan satu hal yang paling gue suka dari travelling adalah liat pemandangan ini

941718_532176443495543_1477110907_n

-Baca Lanjutannya->

Foto, Kenangan, Impian

Pagi itu tidak seperti biasanya. Aku tetap sibuk membuat teh dan Diva sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi yang membuat pagi itu berbeda adalah ucapan Diva berikutnya,

“Aku mau ke Inggris.”

“Buat apa kamu kesana?”

“Tapi aku harus ke Inggris David!”

“Mau apa kamu disana?” Aku mulai kesal karena dia mengungkit Inggris.

“Aku mau ke Trafalgar Square, aku mau menikmati sibuknya orang disana. Aku ingin mendengar suara Big Ben dari dekat seperti Cruella de Vil, juga melihat indahnya London Bridge di malam hari.”

“Aku mau……ke 221b Baker Street. Aku ingin……Aku…Dia…”

“Diva! Kamu serius? Jangan bercanda Diva.” Aku meninggalkan teh di meja dapur dan beranjak ke sampingnya. Bicara Diva mulai melantur.

-Baca Lanjutannya->

Mimpi itu………ada di sana

Pada suatu hari di Jurusan Arsitektur, seorang cewe kece duduk di bagian depan kelas. Hari pertama semester baru ini disambut dosennya dengan kata-kata,

“Ini mata kuliah Sejarah Arsitektur II. Disini kita akan membahas tentang bangunan klasik Eropa.”

Yes, sejarah! Pelajaran yang paling dia nggak suka dari SMP sampe sekarang. Sebelum dia mikir gimana caranya bisa ada kantin saat ini juga, si ibu dosen ngeluarin foto-foto yang bikin dia dapet B+ di mata kuliah ini.

PicsArt_1400827744501

(photo: google.com)

-Baca Lanjutannya->