Tricherie

“Aku langsung yah” Dia mengecup keningku, meninggalkanku termenung di depan rumah sementara suara motornya menderu menjauh. Biasanya dia akan meminta segelas air dingin lalu bercanda betapa jauhnya rumahku. Aku masuk ke dalam rumah sambil mengingat apa yang terjadi sampai dia berlalu begitu cepat.

Kami sedang duduk di cafe setelah menonton film, selama nonton perhatiannya terbelah antara HP dan kilasan gambar di depan matanya. Begitupun saat ini, dia berkali-kali melihat HP-nya, mengetik dengan senyum di bibirnya, lalu lupa aku sedang bercerita apa. Kata “Maaf…maaf…kamu lagi cerita apa tadi?” terdengar berulang kali sampai akhirnya aku diam. Kejadian ini bukan hanya hari ini saja, tetapi sudah berulang kali. Sampai ketika ice cream datang dan dia melihat sesuatu di HP-nya yang membuatnya buru-buru mengajakku pulang dan melupakan dessert favoritnya.

I’m not jealous, aku hanya tidak suka saat dia terlihat menutupi sesuatu. Aku percaya padanya. Tapi……

Aku menghembuskan nafas mengingat semuanya sambil mencari HP di dalam tas. Hari ini harus ditutup dengan curhat kepada sahabatku. Setelah bercerita panjang lebar, kalimat pertama yang muncul di layar adalah

“Dia selingkuh!”

“What????”

“Coba lo inget-inget, ngapain aja dia akhir-akhir ini.”

Tarik nafas…Keluarin pelan-pelan…Ini nggak mungkin, sahabatku pasti hanya berfikir berlebihan. Aku pelan-pelan mengingat sifat anehnya akhir-akhir ini.

Selain lebih sering melihat layar HP daripada melihatku, dia tidak pernah menjawab saat aku bertanya siapa yang mengiriminya pesan di ujung sana, “Bukan siapa-siapa kok sayang.” jawabnya selalu. Dia seperti lebih perhatian denganku, tetapi bukannya membuatku senang tetapi malah membuatku curiga.

“Astaga! Telfon kemarin!” Aku teringat sesuatu.

Kemarin malam, saat kami sedang makan malam di restaurant favoritnya, HPnya berbunyi. Dia melihat sekilas, tersenyum, melihatku dan berkata,
“Aku angkat telfon dulu yah.” Sambil berjalan menjauhi meja kami.
Biasanya dia selalu menelfon di depanku lalu bercerita siapa yang menelfon atau bahkan mengeluh dengan hal yang ia bicarakan.

Saat dia berjalan kembali ke meja, aku mendengar sayup-sayup ia berkata “Aku tutup telfonnya ya sayang. Kamu baik-baik disana.” Saat itu aku terlalu terkejut dengan pendengaranku, mencoba untuk positive thinking.

Pacarku selingkuh.

Dia selingkuh.

Cheating.

Frode.

Betrug.

Tricherie.

Saat otakku mencerna semuanya, HP-ku berbunyi, dia menelfon. Aku menarik nafas, mencoba menghilangkan niat untuk memarahinya, memilih kata-kata yang tepat untuk bertanya tentang sikapnya. Tapi semua kalimat yang sudah aku susun hilang seketika saat mendengar kalimat pertamanya.

“Icez ngelahirin. Anaknya 5, kecil-kecil banget! Kamu besok ke sini yah!”

“Icez? Anjing kamu?”

“Iya lah, siapa lagi. Waktu itu kakak aku bilang kalo Icez kayaknya hamil. Makanya aku merhatiin dia banget. Aku minta dikirimin fotonya terus sama dia, terus tiap kakak nelfon aku pokoknya harus denger suaranya Icez. Kan dia di rawat sama kakak sekarang.”

“Maaf ya nggak bilang-bilang sama kamu, mau buat surprise kamu. Kamu kan sayang juga sama Icez.” Lanjutnya bersemangat.

Oh………..jadi selama ini soal Icez, anjing kesayangannya hamil. Aku bernafas lega. Dia selingkuh, tapi dengan Icez. Dia emang agak protective sama anjingnya.

Saat aku menutup telfonnya, di sebrang sana dia berbalik dan tersenyum kepada seorang wanita yang berkata,

“Sayang, kamu nelfon siapa sih?”

_____________

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s