Foto, Kenangan, Impian

Pagi itu tidak seperti biasanya. Aku tetap sibuk membuat teh dan Diva sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi yang membuat pagi itu berbeda adalah ucapan Diva berikutnya,

“Aku mau ke Inggris.”

“Buat apa kamu kesana?”

“Tapi aku harus ke Inggris David!”

“Mau apa kamu disana?” Aku mulai kesal karena dia mengungkit Inggris.

“Aku mau ke Trafalgar Square, aku mau menikmati sibuknya orang disana. Aku ingin mendengar suara Big Ben dari dekat seperti Cruella de Vil, juga melihat indahnya London Bridge di malam hari.”

“Aku mau……ke 221b Baker Street. Aku ingin……Aku…Dia…”

“Diva! Kamu serius? Jangan bercanda Diva.” Aku meninggalkan teh di meja dapur dan beranjak ke sampingnya. Bicara Diva mulai melantur.

“Itu alasan sesungguhnya David. Aku sangat ingin ke sana! Aku harus ke Inggris.”

“Kamu tidak boleh ke Inggris va.”

“Kenapa? Aku tidak meminta kamu untuk membayar tiket pesawatku. Bahkan aku tidak meminta ijin. Aku hanya menyampaikan keinginanku. Kamu tidak berhak melarang.” Mata indah Diva terlihat menyala, aku terakhir melihatnya seperti itu 3 tahun lalu.

 

“Tapi aku mencintaimu Diva.” ucapku sambil menggenggam tangannya.

“Itu tidak ada hubungannya dengan Inggris.”

“Tentu saja ada! Sangat ada! Kamu tidak boleh kembali ke Inggris.”

“Apa maksud kamu?”

“Alasan kamu soal Inggris……itu semua hanya kenangan dari album foto itu. Bukan atas keinginanmu sendiri.”

“I……ini……Album foto ini sangat penting bagi mereka. Aku yakin mereka sangat menginginkannya kembali.” Diva menatap album foto yang tidak pernah lepas dari genggamannya.

Sekali waktu, aku pernah membukanya saat Diva tidak sengaja meninggalkan di rumah. Album itu berisi foto liburan keluarga di Big Ben, Trafalgar Square, London Bridge, Buckingham Palace, dan Tower Bridge.

“Kamu mau kembali ke Inggris hanya untuk mengembalikan album foto itu? Sadar Diva. Ingat kembali apa alasan kamu dulu membawanya pergi.” Diva menjawab pertanyaanku dengan senyum manisnya. Senyuman itu yang membuatku luluh dari dulu.

“Jujur sama aku va, apa yang bikin kamu tiba-tiba berubah pikiran? Kenapa kamu harus ke Inggris Diva?” Aku memberikan teh hangat agar Diva lebih tenang.

Setelah meneguk sedikit, Diva melanjutkan kata-katanya,

“Album ini berisi kenangan, tapi yang lebih penting, album ini berisi mimpi. Aku baru menemukan mimpi dibalik setiap foto ini.”

Diva memberikan satu foto kepadaku. Foto keluarga yang sedang tersenyum di Trafalgar Square. Di belakangnya terdapat kata-kata, “Suatu hari aku akan membuka cafe dekat sini, di tempat favorit ayah

“Membaca semua mimpi ini membuatku teringat akan mimpiku sendiri. Kamu ingat, ayahku punya mimpi yang dititipkannya kepadaku. Mimpinya yang dia harap bisa aku wujudkan. Mimpi yang bisa membuat ayah bangga padaku. Dan sekarang aku seharusnya ada di Inggris untuk mengejar mimpi itu. Bukannya……bersembunyi…” Mata Diva mulai berkaca-kaca.

“Mimpi aku ada di Inggris David. Disana ada semua hal yang aku butuhkan untuk mengejar mimpi ayahku. Aku tidak mau mengecewakannya. Aku harap dengan mengembalikan mimpi mereka di album ini, aku akan mengembalikan mimpi ayah untukku.”

 

Aku menghela nafas. Wanita di depanku ini memiliki keinginan kuat, tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. Tidak ayahnya, bahkan aku sekalipun yang sudah bersamanya sejak lama.

“Tapi Diva, dia pasti menemukanmu. Kamu tahu sehebat apa dia. Setelah perjuanganku mengeluarkanmu dari Inggris 3 tahun lalu, aku tidak akan membiarkanmu kembali begitu saja.”

“Kamu tenang saja, aku masih sehebat dulu. Dia bahkan tidak akan bisa melihat bayanganku. Dan sekarang, kamu jangan mencariku. Oke David.” Ujar Diva sambil memberikan kecupan di keningku.

 

Senyuman Diva hari itu adalah senyuman terakhirnya untukku. Setelah perbincangan pagi itu, aku tidak bisa menemukannya dimanapun. Tidak di cafe favoritnya, tidak di bangku taman tempat dia biasa menyendiri di sore hari. Bahkan teman lamanya tidak tahu kemana Diva pergi. Lewat mereka Diva menitipkan surat untukku.

“Aku pergi ke Inggris. Terima kasih telah mencintai aku yang tidak sempurna dengan cara yang sangat sempurna. Aku mencintaimu David.”

Aku tidak mendengar kabarnya setelah itu. Diva menghilang di Inggris.

 

Pagi ini di seluruh Eropa menampillkan berita utama dengan judul besar di depannya.

“Sherlock Holmes Kembali Berhasil Dengan Mengungkap Kasus Empat Tahun Lalu”

“Diva……” Jantungku seperti berhenti sesaat ketika membaca beritanya.

 

Berita ini membuatku teringat kata-kata diva waktu itu di Inggris. Dia datang ke rumahku, dengan mata indahnya yang berkilat dia bercerita sambil menggenggam sebuah album foto.

“Aku membunuhnya David. Aku berhasil. Dia membawa ayah pergi dariku selamanya. Sekarang aku telah membawanya dan kenangannya pergi selamanya. Akhirnya David. Akhirnya.” Diva memelukku.

“Ayo Diva, kita pergi dari Inggris. Sekarang! Sherlock Holmes mencarimu.”

TAMAT

 

 

 

 

NB:

Gue mencoba pendekatan baru #InggrisGratis dalam bentuk cerita. Tempat-tempat yang disebut diatas nunjukkin tempat yang pengen gue datengin dengan alasannya masing-masing.

Karakter David menggambarkan hati kecil gue yang bilang kalo gue nggak bakal bisa ke Inggris.

Tapi karakter Diva yang kuat untuk pergi walaupun dia tahu itu berbahaya, menggambarkan besarnya keinginan gue buat pergi ke sana.

Dan alasan kuat Diva yang membuat dia tetap pergi, menggambarkan alasan kenapa gue harus ke Inggris.

mbPhoto_3f7e75c7-de12-477f-a2af-25c57210f4cc

Gue kuliah arsitektur 5 tahun sampai (akhirnya) dapet ST karena ayah gue pengen anaknya jadi arsitek. Walaupun awalnya gue nggak suka arsitektur waktu kuliah, tapi mata kuliah tentang bangunan klasik Eropa (terutama bangunan klasik di Inggris) yang diceritain dosen gue waktu semester 3, itu yang bikin gue suka arsitektur. Bangunan itu yang bikin gue semangat ngedesain, bangunan itu yang berpengaruh ke cara gue ngedesain waktu kuliah, bangunan itu yang bikin gue punya mimpi.

Setelah lulus gue mulai banyak baca macem-macem, denger cerita ini itu dari temen gue yang udah kerja duluan, juga nyoba banyak hal baru. Tapi ternyata semua itu bukannya bikin tujuan gue makin jelas, gue malah makin ke distract dari tujuan awal gue waktu kuliah, Arsitektur. Dan sekarang gue mulai bingung sama apa yang mau gue lakuin. Karena gue udah terlalu lama menjauh dari mimpi itu.

Sekarang gue sedang mencari lagi jejak-jejak mimpi yang masih tersisa di otak gue. Gue harap dengan ke Inggris, dengan lihat langsung bangunan yang dulu bikin gue suka arsitektur itu, dengan ngerasain langsung pengalaman ruang di dalemnya, bisa bikin gue dapet pencerahan. Semoga pengalaman disana nanti bisa balikin rasa penasaran dengan arsitek yang dulu ada, rasa pengen ngedesain itu, rasa ingin tahu itu, dan keinginan untuk membuat bangunan seperti itu. Karena gue percaya mimpi yang mulai ilang itu bisa hidup lagi, cuma butuh pemicu-nya aja. Kaya api yang udah mau padam, cuma butuh bensinnya aja. Dan karena pergi ke Inggris adalah salah satu Bucket List gue.

Here comes the sun (du du du du)
Here comes the sun, and I say
It’s all right”
Here Comes The Sun – The Beatles

Menemukan kembali apa yang bener-bener gue mau dan yang gue butuh. Kaya kata Diva, mimpi ini bisa membuat ayah bangga padaku 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s