Axis JJF Pertama

Ini acara Axis Java Jazz pertama yang gue datengin setelah beberapa tahun kemarin cuma bisa nonton dari tivi dan baca beritanya di internet. Big thank’s to Axis yang udah ngasih tiket gratis dari Blog Competition AXIS Road to Java Jazz. Dan gara-gara tiket gratis ini juga bokap, nyokap dan adek gue ikut nonton, akhirnya kita sekeluarga nonton Java Jazz bareng! Ini pertama kalinya kita keluar buat nonton konser musik.

Sesuai dengan tiket dari Axis (yang ternyata ada tambahan kaos, tas, kipas dan gantungan handphone dari Axis Java Jazz) gue dapet daily pass buat hari Sabtu, 5 Maret 2011. Sebelumnya gue berharap dapet yang hari Jumat, karena mau liat Tompi, tapi setelah liat jadwalnya it’s okey lah hari Sabtu. Bisa nonton Java Jazz gratis aja udah Alhamdulillah, hehe…


First impression gue waktu dateng ke JIExpo adalah “Men, orangnya banyak banget!” Secara gue dapet tiket hari Sabtu dimana hari yang (menurut gue) paling banyak orang. Karena besok hari Minggu dan masih bisa istirahat juga nggak ada kewajiban buat sekolah, kerja atau kuliah setelah abis-abisan dari 10 hall kemaren.

Sepuluh hall besar! Pertama kali denger kata-kata Java Jazz gue nggak ngebayangin kalo bakal ada 10 hall dimana ada performance yang berbeda-beda di masing-masing hall-nya. Gila, nggak aneh kalo acara ini disebut festival jazz terbesar! Dan JIExpo emang tempat yang paling cocok buat acara besar kaya gini, karena hallnya emang gede-gede banget! Nggak tau deh berapa ratus orang yang bisa muat dalam 1 hall itu, apalagi hall Axis (hall D2). Pertama gue agak takut mau ngajak bokap kesini, karena gue takut dia kenapa-napa kalau dateng ke acara yg harus berdiri lama kaya gini, tapi setelah liat venue dan masing-masing hall-nya, gue bisa bernafas lega karena tempatnya pewe banget!

Oke, cerita gue mulai dari pintu masuk. Pertama masuk kita disambut sama gate Axis dengan tulisan welcome besar yang bikin kita gampang mengidentifikasi pintu masuk dan tahu darimana kita harus mulai perjalanan seru ini.

Setelah beberapa menit gue beradaptasi dengan lingkungan sebesar ini dan begitu banyaknya orang Indonesia (gue sebut orang Indonesia, karena pasti nggak cuma orang Jakarta yang ada) disini, gue mulai perjalanan musik ini bersama adek gue. Pertama dimulai dari Soulvibe. Tapi karena telat ke hall-nya  jadi kita cuma dapet beberapa lagu yang sebenernya gue nggak kenal-kenal banget, cuma karena crowd-nya seru jadi kebawa suasana aja. Dengan baju merah, Soulvibe ngebawain beberapa lagu dengan asik, jadi agak nyesel kenapa nggak punya albumnya.

Sekarang gue mau bahas soal hall-nya. 3 kata dari gue. BESAR, dingin dan pewe banget! (oke, itu 4 kata) Nggak berasa kalo loe lagi bareng-bareng ratusan orang di dalem situ, karena sama sekali nggak berasa panas dan sumpek sama sekali. Padahal suasana di dalam sana seperti ini,

Pengaturan AC yang bagus menjadi salah satu hal yang gue perhatikan waktu ada di dalam sana. Sebagai seorang mahasiswa arsitektur, gue tahu bagaimana harusnya pengaturan AC yang baik agar mendapatkan hasil yang maksimal saat ada begitu banyak orang di dalam sebuah ruangan besar. Karena beberapa tempat yang pernah gue survei nggak bisa menghasilkan suasana nyaman seperti ini ketika ada banyak orang di dalamnya.

Lanjut ke performance kedua. Jam 8 kurang kita pergi ke hall B1 tempat Ello manggung. Oh men, kita telat, bahkan sekarang kita udah nggak bisa masuk ke dalem hall gara-gara udah terlalu penuh. Jadi harus nunggu sampe beberapa orang keluar dulu, baru bisa masuk. Dari luar hall B1 kita bisa denger suara Ello yang menyanyikan lagu “Benci Tapi Rindu” Waktu akhirnya bisa masuk ke dalam dan setelah melewati berpuluh-puluh orang akhirnya kita bisa ada di tengah dan menyaksikan Ello secara langsung.

Performance-nya ini ‘parah’ banget, seperti kata Ello, “Wah parah nih, parah nih! Gue nggak nyangka bakal seseru ini!” setelah menyanyikan lagu “Tetap Milikmu”. Lagu yang dia nyanyikan di hall ini antara lain Benci Tapi Rindu, Gadisku, Kisah Tak Berujung, dan Wonder Wall dari Oasis yang diaransemen ulang dan jadi agak jazzy. Lagu-lagu ini sangat familiar di kalangan anak muda, jadi nggak heran kalo dari awal sampai akhir semua bernyanyi dan bergoyang. Apalagi lagu Wonder Wall, wow keren banget jadinya waktu dinyanyiin sama cowok yang memakai cardigan abu-abu sedikit gelap dan celana panjang hitam ini. Ello-nya sendiri pun charming banget dengan gitarnya, performance ini emang ‘parah’ kerennya 🙂

Secara tidak rela jam 9 kurang gue ditarik adek gue keluar dari Hall B1 menuju hall A1 karena dia mau menonton LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahua dan Sandy Winarta) dan akhirnya oke lah, gue setuju buat meninggalkan Ello dan menuju kesana. Sampai di B1 ternyata LLW masih belum mulai, agak menyesal kenapa nggak agak lamaan lagi di tempat Ello, hahaha. Tapi setelah Indra Lesmana dengan piano-nya, Barry Likumahua dengan bass-nya dan Sandy Winarta dengan drum-nya keluar, rasa sesal itu menguap ntah kmana.

Walaupun gue nggak begitu tertarik dengan musik tanpa penyanyi kaya gini, tetapi gue tetep bisa menikmati kok. Salah satu penampilannya, LLW membawakan sebuah musik yang berjudul Bulan di Atas Asia, “Salah satu lagu di album LLW tribute untuk para musisi jazz terdahulu. Sebab kita nggak akan ada di sini tanpa mereka, ada Didi Patirani, Jack Lesmana, Boby Chan, Beny Likumahuwa,” Ucap Indra Lesmana. Lagu tribute untuk para musisi jazz terkenal ini berjudul Stretching Pulse yang mereka mainkan bersama seorang DJ dan rapper.

Setengah pertunjukan berjalan, gue keluar meninggalkan adek gue yang masih betah didalam untuk live blogging di Axis Lounge. Seperti yang sudah gue ceritain di post sebelumnya, suasana Axis Lounge ini asik banget.

Tapi gue agak menyesal karena nggak nanya-nanya soal pemenang dari live blogging kemarin, gue lupa banget mau balik lagi ke Axis Lounge jam 10, siapa tau aja kan ternyata gue salah satu dari 5 blogger yang beruntung kemaren, hehe. Tempat berwarna ungu putih ini cantik banget dan jadi point of view diantara tempat-tempat lainnya.

Setelah LLW selesai, gue berniat nonton The Groove di Jazz Corner, tapi terlambat. Jazz Corner tempatnya terlalu kecil dan sudah penuh sampai ke depan pintu masuknya. Jadi dengan tidak rela setelah menunggu 15 menit dan tetep nggak bisa masuk, kita dengan terpaksa pergi dari situ dan naik ke lantai 6 menuju Medco Lawu 1 Acoustic Hall.

Walaupun tempatnya agak kecil dibanding hall utama dibawah dan AC-nya yang dipasang kurang maksimal sehingga ruangan terasa agak panas, tetapi performance dari Husbands and Wives (Otti Jamalus, Yance Manusama dan Endah N Rhesa) nggak ngurangin niat kita buat tetep nonton dan ada disana sampai lagu terakhir. Lagu I Don’t Want To Talk About It dari Rod Stewart yang diaransemen ulang sama Husbands and Wives sampe sekarang masih terngiang-ngiang di telinga gue. Ntah kenapa lagu itu masih nempel sampe sekarang.

Perjalanan musik ini ditutup dengan Maliq and D’Essentials di Hall A2. Waktu pertama masuk ke dalem, gue langsung bilang dalam hati “Oh my God, tempatnya gede banget!” Asli, hall yang ini gede banget! Gue rasa lebih gede dari hall sebelumnya. Sewaktu di dalem, masih ada performance dari Zap Mama yang lagu-lagunya merupakan percampuran dari jazz, pop, funk, reggae dan soul. Jam 00.45 setelah banyak penonton yang meneriakkan “Maliq…Maliq…Maliq…” akhirnya panggung Zap Mama tertutup dan muncullah Angga cs di panggung sebelahnya.

Lagu “Terdiam” membuat penonton yang tadinya diam langsung bergoyang dan bernyanyi bersama. Setelah lagu ini, berturut-turut Maliq memainkan “The One” yang diaransemen dengan bernuansa rock dan lagu “Penasaran”. Penonton langsung heboh begitu mendengar intro lagu “Heaven”. Lalu mereka melanjutkan performancenya malam itu dengan lagu-lagu dari album  “The Beginning of The Beautiful Live” seperti “Menari” yang kata Angga memiliki koreografi khusus di video klipnya, kemudian “Mata Hati Telinga”, “Coba Katakan” dan “Dia”. Yang menarik malam ini adalah string section sepuluh wanita yang memakai wig perak yang tergabung dalam “String Sensual” yang berkolaborasi dengan Maliq and D’Essentials.

Penampilan Maliq yang atraktif dan maksimal itu menutup dengan cantik perjalanan musik gue malem ini. Nggak puas rasanya cuma ngeliat beberapa penampilan aja, pengennya semua gue tonton, tapi namanya juga pengalaman pertama. Tahun depan gue janji harus dateng lagi, kalau perlu lebih dari 1 hari biar bisa puas ngeliat performance dari musisi Indonesia. Seperti yang gue tulis di live blogging sebelumnya, gue dateng ke Java Jazz buat nonton musisi Indonesia. Bangga rasanya Indonesia punya acara musik tahunan besar kaya gini.

O iyah, ada kata-kata dari Endah yang gue inget sampe sekarang

“Acara musik seperti ini dapat menghilangkan senioritas. Nggak peduli berapa umurnya kita bisa bersatu dan berkolaboasi di musik tanpa canggung”

Dan juga kata-kata dari Bayu, vokalis soulvibe yang gue ambil dari http://www.kapanlagi.com

“Jazz kan yang gak se-kaku itu. Di sini, konsepnya juga luas. Bukan hanya jazz dalam artian aliran musik tapi soul jazz yang mengandung unsur kebebasan dalam bermusik,”

Axis Java Jazz 2011 is a great experience. Thank’s Axis for the opportunity. See you next year! Axis Java Jazz 2012 🙂

All of picture is taken from http://www.google.com, http://www.kapanlagi.com and http://www.facebook.com/AXISgsm

.

.

.

.

.

NB : Tahun depan gue harus bisa nonton Pandji dan Tompi. Nyesel banget nggak bisa nonton langsung performance mereka, salah satunya ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s